Cerpen: Bertahan Demi Sebuah Kehormatan

Jika seorang perempuan sedang jatuh cinta namun ia hanya bisa mengagumi dan tak ingin berpacaran. Bagaimana jika sang pujaan hati menyatakan cinta kepadanya. Akankah roboh benteng pertahanannya?

 ***

Siang itu, di kantin “Kreasi Kita” sebuah kantin di salah satu Universitas di Yogyakarta. Rania dan kedua temannya, Sasa dan Nana tengah menikmati makanan yang mereka pesan. Mereka nampaknya kelaparan setelah mengikuti mata kuliah ekonomi yang membuat energi dan fikiran mereka terkuras. Di tengah menyantap bakso, Sasa berkata. “Setelah ini kita ada kumpul organisasi di gedung E.” Nana pun menjawab. “Cie yang mau ketemu mas crush!” sontak tawa Sasa dan Nana tak terelakkan. Rania dan kedua temannya adalah teman satu kelas dan satu organisai hal itu yang membuat mereka menjadi sahabat. Dalam organisasi tersebut terdapat Lak-laki berwajah manis yang pandai dan berkharismatik, ia sangat bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan kepadanya. Hal itu lah yang membuat Rania mengagumi sosok itu. Lakilaki itu bernama Rakha.

Rania telah lama mengagumi Rakha. Namun ia hanya bisa mengagumi dalam diam karena ia tak tahu bagaimana perasaan Rakha terhadapnya. Ia juga tidak ingin menjalin hubungan haram “pacaran” walaupun hal itu sudah dianggap biasa oleh muda-mudi di zaman globalisasi ini. “Zaman sekarang kok nggak punya pacar? Nggak gaul donk!”

Hingga suatu hari, Rania pulang malam karena harus menyelesaikan berkas-berkas untuk persiapan rapat esok hari. Sasa dan Nana sudah pulang terlebih dahulu, tinggalah Rania dan beberapa orang lainnya termasuk Rakha. Setelah menyelesaikan tugasnya Rania berniat pulang. Namun tak disangka hujan turun dengan derasnya, ia pun terpaksa menunggu hujan itu hingga reda. Rania menunggu hujan di depan gedung E. Saat itulah Rakha menghampirinya.

“Rania kau belum pulang?”

“Belum Rakha, ini masih menunggu hujan reda!”

“Kau pulang dengan siapa?”

“Aku pulang sendiri naik ojek.”

“Pulang saja bersamaku! ini sudah malam dan hujan turun. Aku khawatir terlebih kamu seorang perempuan.” Ketika mendengar perkataan Rakha barusan, jantung Rania berdegup keras. Rakha mengkhawatirkannya?

“Tidak Rakha aku baik-baik saja.” ungkap Rania, ia berusaha biasa saja walau sebenarnya perasaannya berkecamuk.

“Sudahlah tak apa, lagian rumah kita searah. Kau lupa jika sudah larut malam dan turun hujan, ojek susah didapati?”

Rania pun teringat akan hal tersebut. Akhirnya ia menerima tawaran Rakha. Setelah hujan reda, Rania pulang bersama Rakha. Setelah perjalanan yang memakan waktu sekitar setengah jam mereka sampai di depan rumah Rania. Ketika Rakha hendak berpamitan pulang terjadilah sebuah kejadian yang tak terduga.

“Rania aku ingin berbicara kepadamu!”

“Kau ingin berbicara apa Rakha?” Jawab Rania bingung

“Sebenarnya hal ini sudah lama kupendam dan aku baru berani mengungkapkannya sekarang. Aku telah lama mengagumimu Rania kau sosok wanita yang cerdas dan berpinsip hal itulah yang membuatmu menjadi sosok spesial dimataku!” Duar, Rania terkejut rasanya ia ingin ditelan oleh bumi. Ia tak meyangka selama ini Rakha mengaguminya.

“Apa Rakha?” Rania berusaha bertanya kepada Rakha, berusaha meyakinkan apakah pernyataan Rakha benar atau tidak.

“Aku mencintaimu Rania. Bagaimana dengan dirimu?” Rania terdiam, perasaan Rania kala itu sulit dijelaskan dalam bentuk kata-kata. Malam itu Rakha mengungkapkan perasaanya, ia bingung rasanya senang atau justru sebaliknya. Ia senang karena orang yang dikaguminya ternyata mempunyai rasa yang sama terhadapnya bahkan lebih dari itu, Rakha mencintainya. Namun disisi lain ia bingung karena ia tak ingin berpacaran, karena berpacaran adalah sebuah perbuatan yang dilarang oleh agama. Ia tak ingin berdusta kepada tuhannya.

“Maaf Rakha aku tidak bisa.” ungkap Rania, dan itulah kata-kata yang keluar dari mulut Rania di tengah dilema yang ia rasakan. “Mengapa Rania, apa kau tak mempunyai rasa yang sama?”

“Aku tidak bisa Rakha!” Rania pun segera bergegas meninggalkan Rakha dan masuk ke dalam rumah.

 ***

Keesokan harinya saat menghadiri rapat organisasi Rakha dan Rania bersikap biasa saja seperti tak ada kejadian sebelumnya. Rania pun tak menceritakan apa yang ia alami semalam kepada Sasa dan Nana. Rapat kali ini membahas kepanitiaan “pengabdian masyarakat”.

“Struktur panitia pengabdian masyarakat, ketua pelaksana Hamdan Raka Mahendra, wakil ketua pelaksana Rania Syarifah Althafunnisa.” ucap Reyhan, selaku ketua organisasi. Sontak setelah mendengar penyataan tersebut, Sasa dan Nana menoleh kepada Rania. Rania pun mengisyaratkan kepada sahabatnya untuk bersikap biasa saja. Setelah rapat selesai Sasa dan Nana menghampiri Rania dan menggodanya. Rania berusaha bersikap tenang walaupun sebenarnya ia khawatir. Mereka tidak tahu saja jika semalam Rakha telah mengungkapkan perasaannya kepada Rania dan sekarang, ia menjadi panitia bersama Rakha.

***

Hari H program kegiatan pengabdian masyarakat tiba. Seluruh panitia berangkat dari kampus ke tempat pengabdian menggunakan motor karena perjalanan menuju desa tersebut sulit jika dilalui dengan mobil. Perjalanan memakan waktu selama dua jam. Setelah itu tibalah mereka di tempat pengabdian masyarakat, Desa Sokho. Di tempat pengabdian Rania dan Rakha sering bersama karena mereka harus mengkoordinasi setiap kegiatan yang dilakukan di Desa Sokho agar berjalan secara maksimal. Karena kebersamaan itulah benih-benih cinta diantara mereka tumbuh semakit kuat. Hingga di hari penutupan program “pengabdian masyarakat”, kejadian tak terduga terulang kembali… 

“Rania, usai juga program pengabdian masyarakat ini. Acara berjalan dengan sukses dan salah satunya berkat dirimu. Kau melakukan segenap hal dengan sepenuh hati.” ucap Rakha 

“Tidak Rakha. Aku hanya berusaha memberikan yang terbaik dalam penugasanku ini. Lagi pula program ini juga berjalan baik karenamu. Kau sebagai ketua dan kau penanggung jawab terbesar dalam kegiatan ini.” Jawab Rania. Mendengar jawaban Rania, Rakha tersenyum.

“Rania! mungkin ini tiba waktunya”

“Waktu apa?”

“Waktu untuk mengungkapkan perasaanku kepadamu, lagi. Aku tidak tahu mengapa kau menolakku kala itu dan kau tidak memberikan alasan kepadaku, mungkin aku berpikir saat itu kau belum siap. Dan aku berpikir saat ini adalah yang tepat. Aku mencintaimu Rania, terlebih dalam program ini kita sering bersama, rasa itu semakin tumbuh!”

“Apa Rakha?”

“Benar Rania aku mencintaimu, bagaimana dengan dirimu?”

Rania pun hanya bisa terdiam. Sesungguhnya Rania pun juga merasakan hal yang sama. Perasaannya semakin tumbuh saat menjalani program ini karena mereka lebih sering bersama. Namun, ia bingung harus bagaimana, harus menuruti perasaanya atau menaati perintah tuhannya.

“Maaf Rakha aku tidak bisa menjawabnya saat ini, beri aku waktu!” ungkap Rania

“Baik Rania, aku tunggu jawabanmu!”

*** 

Esok hari Rania menceritakan apa yang ia alami kepada Ibunya.

“Bu, Rania mau cerita sama Ibu”

“Mau cerita apa nak?”

“Begini bu, Teman Rania yang bernama Rakha menyatakan perasaannya kepada Rania bu, tapi Rania bingung”

“Bingung kenapa, apa kamu mempunyai perasaan yang sama?”

“Iya bu, sebenarnya Rania juga mempunyai perasaan yang sama terhadap Rakha. Tapi Rania tidak mau pacaran bu, Rania takut melanggar syariat agama. Namun hati Rania masih belum kuat bu dan Rania takut salah langkah oleh sebab itu Rania ingin meminta pendapat dari Ibu”

“Segala sesuatu memang perlu dibicarakan nak, terlebih ini meyangkut syariat agama. Pacaran memang dilarang dalam agama islam karena perbuatan itu dapat mendekatkan kepada zina, dan Allah membenci perbuatan tersebut. Namun mirisnya zaman sekarang pemuda pemudi telah menggangap pacaran adalah hal biasa. Mereka menggangap jika tidak mempunyai pacar maka termasuk orang yang ketinggalan zaman. Padahal pacaran adalah budaya barat dan bukan budaya kita sebagai umat islam. Islam sangatlah memuliakan wanita, wanita tidak diperkenankan menjalin hubungan dengan lelaki yang bukan mahramnya kecuali wanita dan laki-laki tersebut terikat dalam janji suci pernikahan. Islam sangat memuliakanmu Rania. Memilih untuk tidak berpacaran adalah hal yang sulit dilakukan terlebih di akhir zaman ini, namun kau harus mempunyai hati yang kuat nak untuk menjalani ini semua. Kau mengerti kan?”

“Baik bu aku mengerti!” Jawab Rania. Perasaaanya kini lega, ia telah menemukan jawabannya.

***

Beberapa hari kemudian laporan pertanggung jawaban program kegiatan “pengabdian masyarakat” tiba. Rania berpikir saat itulah waktu yang tepat untuk memberikan jawaban kepada Rakha. Ketika laporan pertanggung jawaban telah usai, Rania menghampiri Rakha.

“Rakha aku ingin berbicara kepadamu.” Ucap Rania

“Baik Rania.” Jawab Rakha

“Aku ingin memberikan jawaban atas perasaanmu kepadaku.”

“Apa jawabanmu Rania?”

“Aku tidak bisa membalas perasaanmu Rakha!”

“Mengapa Rania, apa kau tak mempunyai perasaan yang sama kepadaku?”

“Sebenarnya aku memiliki rasa terhadapmu, tapi aku tidak bisa…”

“Mengapa tidak bisa rania, cobalah berterus terang kepadaku!”

“Aku tidak bisa menjalin hubungan ini Rakha, kau tahu berpacaran adalah perbuatan yang dilarang oleh agama. Islam pun telah menyuruh setiap wanita untuk menjaga kehormatannya dengan tidak menjalin hubungan dengan lelaki yang bukan mahramnya. Dan aku ingin menjaga kehormatan itu”

"Tapi Rania…”

“Aku memang mencintaimu tapi aku lebih mencintaiku tuhanku. Jika nanti kita memang berjodoh kita akan dipertemukan. Namun saat ini lebih baik kita berjalan pada jalan masing-masing. Aku harap kau menghargai keputusanku.”

“Baiklah Rania, aku hargai keputusanmu!”

“Terimah kasih Rakha, Assalamualaikum!”

“Waalaikumsalam Rania”

Rania lalu meninggalkan Rakha, hatinya terasa lega setelah mengungkapkan apa yang selama ini menjadi beban di dadanya. Ia pun tersenyum karena ia telah memilih jalan yang terbaik. Ia akan menjaga kehormatannya sebagai wanita, ia tak akan menjalin hubungan dengan lelaki kecuali dalam ikatan pernikahan. Ia akan terus bertahan… demi sebuah kehormatan.

Komentar