Feature : Seorang Marbot Musala Yang Ingin Mendapat Keberkahan Hidup
Sore itu di salah satu musala di kota Surabaya tepatnya musala
Al-Muhajirin terdapat lelaki yang sudah cukup umur tengah menyapu lantai musala.
Laki-laki itu bernama Pak Pardi. Pak Pardi membersihkan setiap sudut yang ada di
musala tersebut, kemudian ia menyiapkan meja guna menaruh takjil yang diberikan
warga sekitar. Ketika takjil datang, Pak Pardi menerima dan menatanya diatas
meja tersebut.
Tak lama kemudian, anak-anak, remaja, hingga orangtua datang guna buka
bersama di musala. Sebagian dari mereka datang ketika syiir gusdur diputar, mereka pun duduk. Ada yang menunggu waktu berbuka dengan
membaca Al-Qur’an, ada pula yang duduk santai lalu bercengkerama dengan sesama,
ada yang memainkan ponsel dan lain sebagainya. Sebagian lagi datang ketika
adzan maghrib akan tiba. Biasanya yang datang dekat waktu magrib adalah para
orangtua yang baru pulang dari tempat bekerja.
Ketika adzan tiba, orang-orang segera menyantap hidangan buka puasa yang
ada. Pak Pardi mengkoordinasi pembagian takjil agar semua orang mendapat bagian
yang rata. Setelah buka bersama Pak Pardi membersihkan musala guna persiapan
salat maghrib berjamaah. Membersihkan musala dan mempersiapkan takjil dilakukan
Pak Pardi tiap hari di bulan Ramadhan.
Nama lengkapnnya Supardi, orang orang biasanya memanggil dengan sebutan
“pak pardi”. Umurnya 65 tahun. Di umurnya yang bisa dikatakan usia senja, Pak
Pardi menjalani hari-harinya sebagai marbot musala Al-Muhajirin. Marbot adalah
istilah yang diberikan kepada seorang yang bertanggung jawab mengurus keperluan
langgar, surau, musala atau masjid, terutama yang berhubungan dengan kebersihan
lingkungan tempat ibadah tersebut.
Pak Pardi menjelaskan tugasnya sebagai marbot musala adalah membersihkan
musala dan menjaga waktu salat. Ia menyapu, mengepel, mengelap kaca dan
memastikan semua benda dan tempat di musala Al-Muhajirin bersih dan suci. Dan
setiap waktu salat tiba, Pak Pardi mengumandangkan adzan mengingatkan setiap
orang jika waktu salat telah tiba dan mengajak mereka untuk menunaikan salat
berjamaah. Sungguh sebuah perbuatan yang mulia.
Ketika ramadhan tiba, pekerjaan Pak Pardi sebagai marbot musala
bertambah dikarenakan banyak kegiatan yang dilakukan jamaah musala Al-Muhajirin
di bulan suci ramadhan. Kegiatan itu diantaranya adalah buka bersama, salat
tarawih berjamaah, ceramah, tadarus qur’an, kultum subuh, kultum hari minggu,
salat malam, penerimaan zakat dan masih banyak lagi. Sebagai seorang marbot
musala, Pak Kardi ikut menyiapkan semua kegiatan tersebut.
“Banyak sekali kebutuhan dan peralatan yang harus disiapkan saat bulan
ramadhan mbak. Contohnya adalah menyiapkan karpet guna salat tarawih berjamaah,
mengundang ustadz untuk mengisi ceramah ramadhan dan sebagainya” ucap Pak Pardi.
Sebelum kegiatan dimulai, Pak Pardi menyiapkan segala keperluan. Setelah
kegiatan selesai, Pak Pardi pun membereskannya dan memastikan keadaan musala
bersih dan tertib seperti sedia kala, ketika sebelum kegiatan atau acara
dilakukan.
Pak Pardi pun menceritakan pengalaman lucunya ketika menjadi marbot
musala. Ketika acara kultum pagi di hari minggu yang diikuti oleh ibu-ibu telah
usai. Terdapat seorang ibu yang mondar-mandir cukup lama di sekitar musala, ibu
itu bernama Bu Emi. Saat ditanya oleh Pak Pardi ibu itu mengaku kehilangan
sandalnya dan sandal itu masih baru. Kemudian ibu itu menjelaskan ciri-ciri
sandalnya kepada Pak Pardi, berharap jika Pak Pardi menemukan sandal tersebut,
Pak Pardi dapat mengembalikannya kepada Bu Emi. Setelah berpesan kepada Pak
Pardi mengenai sandalnya, Bu Emi pulang ke rumah. Selang setengah jam kemudian,
Bu Emi datang kembali ke musala dan menanyakan perihal sandalnya, apakah sudah
ditemukan atau belum. Pak Pardi pun menjawab jika belum menemukan sandal dengan
ciri-ciri yang Bu Emi sebutkan. Akhirnya pun Bu Emi pasrah karena sandalnya tak
juga kunjung ditemukan, ia juga berkata semoga suaminya tidak marah karena
sandal baru yang hilang dan bisa membeli lagi sandal baru yang seperti
sebelumnya. Mendengar pernyataan Bu Emi kala itu, membuat Pak Pardi tertawa.
Saya yang juga mendengar cerita Pak Pardi tentang seorang ibu yang kehilangan
sandal tersebut, tertawa karena lucu. Ada ada saja tingkah Bu Emi.
Begitu banyak kejadian yang dialami Pak Pardi selama menjadi marbot musala
Al-Muhajirin, dari hal yang biasa hingga tak biasa yang dia alami seperti
cerita tentang seorang ibu yang kehilangan sandalnya. Ditengah pekerjaanya menjadi
seorang marbot musala, Pak Pardi hidup seorang diri. Ia tinggal di sebuah kost
tepat di sebelah musala Al-Muhajirin. Usianya yang renta membuat pak Pardi
tidak bisa bekerja lagi. Hari-harinya ia sibukkan untuk mengurus musala. Untuk
memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membayar kost, pak Pardi menerima uang lelah dari pengurus rukun warga di
wilayah tersebut yang jumlahnya tak seberapa.
Meski hanya mendapat uang lelah
yang jumlahnya tak seberapa, pak Pardi menerima dan menjalankan semua ini
dengan ikhlas. Jika ditanya alasan mengapa pak Pardi mau mengurus musala maka
jawabannya adalah karena untuk ibadah dan mencari berkah Allah SWT. Ia ingin
menghabiskan masa tuanya dengan menjadi marbot musala, karena menjadi marbot
musala merupakan suatu pekerjaan yang mulia. Pak Pardi senang jika membersihkan
rumah Allah guna menjadi tempat beribadah umat muslim. Terlebih di bulan Ramadan,
banyak kegiatan yang dilakukan jamaah dan Pak Pardi turut andil dalam kegiatan
tersebut. Ia berharap apa yang dilakukannya diridhoi Allah SWT sehingga
hidupnya menjadi berkah.
Saya merasa tersentuh dengan apa yang saya lihat dari seorang marbot musala bernama Pak Pardi. Di usianya yang senja, Pak Pardi menjalankan tugasnya menjadi seorang marbot musala dengan tulus dan ikhlas demi menggapai ridho Allah agar hidupnya menjadi berkah. Semoga Hal ini dapat memotivasi orang lain agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Menjadi pribadi yang lebih semangat dalam menjalani hidup dan tidak bermalas-malasan apalagi di umur yang masih muda dengan tubuh yang kuat, menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain, menjadi pribadi yang bersyukur dengan apa yang ia punya, menjadi pribadi yang menjalankan hidup dengan tulus dan ikhlas guna menggapai ridho Allah SWT, sehingga hidup ini menjadi lebih berkah.

Komentar
Posting Komentar